Make your own free website on Tripod.com

METODE BERPIKIR MARHAENISME

Oleh:Wisnu Wardana (Alumni GMNI Jogjakarta)

PENDAHULUAN

Terdorong oleh rasa tanggungjawab terhadap segenap penderitaan yang kita alami bersama, penderitaan bangsa dan negara kita, ingin kami mengajukan suatu bahan studi buat kita semua. Suatu bahan studi untuk menyatukan gerak langkah perjuangan kita, keluar dari segenap penderitaan dan ancaman batin. Sebenarnya bahan ini bukanlah suatu bahan yang baru, akan tetapi kami sekedar menyusun kembali ajaran-ajaran perjuangan marhaenisme dalam bentuk yang disesuaikan dengan perkembangan dan tantangan yang kita hadapi pada tahap perjuangan menghadapi neo-kolonialisme dan neo-imperialisme, yaitu kolonialisme imperialisme yang dijalankan melalui tangan-tangannya yang berupa bangsa sendiri

Memang nekkolim adalah suatu bentuk penjajahan yang baru dikenal oleh rakyat kita, oleh karna itu pada tahap-tahap pertama sangat membingungkan.Sehingga kita tidak tahu siapa sebenarnya yang seharusnya menjadi kawan ataupun lawan. Kebingungan yang cukup mengorat-arit barisan progresif revolusioner terutama cukup dapat membuat keblinger orang-orang yang kurang teguh imannya. Namun itu tak akan bertahan lama dalam waktu yang relatif pendek, pendek dalam ukuran revolusi, rakyat kita yang cukup terdidik oleh pengalaman menghadapi kolonialisme imperialisme dengan subversi dan infiltrasinya, maka rakyat kita segera sadar siapa yang harus dihadapi.

Melihat peengalaman pahit yang telah lalu maka kami merasa bahwa porak-porandanya barisan kita, adalah karna dilanda oleh subversi infiltrasi nekolim dan pengkhianatan PKI.

Terutama karena kurangnya keseragaman metode berpikir anggota-anggota barisan kita. Sehingga masing-masing mengambil tafsiran, kesimpulan,dan sikap sendiri-sendiri yang bersimpang siur saling berhantaman sesama kawan, lupa pada lawan bersama. Oleh karna itu dengan ini kami harapkan adanya kesatuan tafsir ideologi. Kesatuan Tafsir ideologi berarti kesatuan landasan, kesatuan tujuan, dan kesatuan langkah. Masing-masing individu dan kelompok dalam barisan kita dapat mengembangkan kreasi-kreasinya, tidak dogmatis dalam menghadapi persoalan-persoalan perjuangan. Masing-masing berkreasi menuju satu sasaran bersama dalam derap langkah yang harmonis. Dan dapat menilai keadaan secara obyektif, siapa benar siapa salah. Sehingga tidak lagi terjadi penilaian perorangan secara like and dislike. Suka atau tidak suka pada orangnya, akan tetapi kita nilai person-person itu dengan norma-norma garis perjuangan dalam setiap tahap-tahap perjuangan. Jadi metode berpikir marhaenisme pada pokoknya ialah untuk :

  1. Menyatukan tafsir ideologi
  2. Menghilangkan cara berpikir dogmatis.
  3. Menggunakan kreasi-kreasi gerakan dengan satu tujuan dan satu langkah.

Semoga bahan-bahan ini berguna dalam memberikan andil buat dalam revolusi PANCASILA.

 

LATAR BELAKANG

Faktor-faktor yang mempengaruhi cara berfikir seseorang.

Di jaman perburuan, pertanian dan pertenakan yaitu jaman manusia purba yang sangat primitif manusia hanya dapat berpikir secara sepotong-sepotong. Mereka tidak dapat melihat secara luas, tidak dapat membuat rencana hidupnya secara panjang. Segala sesuatu diangan-angankan.Seperti mereka menganngankan datangnya hujanbuat tanaman mereka, mereka mengangankan datangnya musim panas. Dengan idealisnya mereka menyembah berhala untuk mendatangkan hujan. Agak maju sedikit adalah berpikir idealis.

Sesudah manusia mengenal alat-alat, lebih maju lagi manusia mengenal kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan membuat kerajinan tangan, maka pada saat itu manusia juga mengalami kemajuan cara berpikir.Timbullah cara berpikir realis, manusia sudah dapat melihat kenyataan-kenyataan secara lebih obyektif. Akal manusia berkembang maju.

Kemajuan akal, meningkatnya intelegensia juga mempengaruhi cara berpikir seseorang. Cara berpikir anak-anak lain dengan cara berpikir orang dewasa, cara berpikir anak sekolah dasar lain dengan cara berpikir anak sekolah lanjutan pertama. Disamping memang ada perbedaan yang disebabkan karena perbedaan kecerdasan seseorang. Pada pokoknya perbedaan tingkat integensia.

Seorang berpikir tentulah juga ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan atau lingkungan hidupnya. Seorang pegawai negeri yang terbiasa dengan cara formal birokratis tentulah lain dengan cara berpikir seorang pedagang yang menilai segala sesuatu dengan motif mencari keuntungan pribadi ( perhitungan rugi-laba ). Lain pula dengan cara berpikir seorang yuri yang segala sesuatunya berdasarkan landasan-landasan hukum formal. Lain pula dengan cara berpikir seorang guru, buruh pabrik, polisi dsb.

Disamping itu, semua orang mesti berpikir menurut kepentingannya, berpikir menurut vestednya. Seorang majikan yang bermodal tentulah berpikir untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari modal yang dimilikinya. Sebaliknya seorang buruh yang bekerja pada majikannya tentulah ingin mendapatkan upah yang setinggi-tingginya. Kaum imperialis kapitalis ingin agar barang-barang produksinya laku di Indonesia, sedang rakyat Indonesia ingin membuat barang kebutuhannya sendiri.

Orang Komunis lain dengan orang Pancasialis, lain pula dengan kaum reaksioner kanan. Jadi falsafah hidup seseorang tentu juga mempengaruhi cara berpikirnya. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa cara berpikir seseorang itu dipengaruhi oleh faktor-faktor:

  1. Caranya orang berproduksi , caranya mencari makan
  2. Tingkat integensia, tingkat kecerdasan
  3. Pengalaman hidup, lingkungan hidupnya atau kebiasaan-kebiasaannya
  4. Kepentingan atau vestednya, sehingga orang mesti memihak pada kepentingannya
  5. Falsafah atau pandangan hidupnya

Berdasarkan faktor-faktor tersebut kita mulai dapat menilai dan mengerti serta dapat memahami tindakan-tindakan seseorang, mengapa dia begitu dan mengapa dia begini. Demikian juga kita yang mengetahui hal itu mesti juga terpengaruh oleh faktor-faktor tersebut. Oleh karena itu sangat penting buat pejuang-pejuang rakyat atau orang yang menempatkan dirinya berada dimana, sehingga vested kita yang bersifat negatif minimal dapat tereliminir atau diintegrasikan dengan kepentingan rakyat.

Perkembangan Cara Berpikir

Dijaman purbakala manusia primitif berpikir secara PRAGMATIS, agak maju sedikit orang berpikir secara IDEALIS atau IDEALIS PRAGMATIS, kemudian dalam tingkat yang lebih maju orang berpikir secara REALIS, yaitu sudah mulai dapat melihat secara obyektif. Kemudian cara berpikir realis ini berkembang menjadi dua aliran yaitu REALIS PRAGMATIS dan REALIS DIALEKTIS.

Pandangan REALIS PRAGMATIS sekarang lebih populer dengan istilah REALIS PRAGMATIS PRAKTIS. Cara berpikir ini memang sudah dapat melihat kenyataan-kenyataan secara obyektif, tetapi belum atau tidak menghubungkan dengan sebab-sebabnya. Tidak dapat melihat hubungan antara persoalan satu dengan lainnya. Dianggapnya masing-masing persoalan kehidupan itu tidak ada saling hubungannya, dan dapat diselesaikan secara sepotong-sepotong. Cara sepotong-sepotong ini kelihatannya sangat praktis. Mereka itu tahu bahwa rakyat butuh makan, maka secara praktis penyelesaiannya adalah import makanan, tanpa dipikir bahwa untuk import itu kita harus memikul hutang dengan bunga yang tinggi. Agak maju sedikit mereka yang mau menaikkan produksi beras, tanpa dipikirkan bahwa produksi beras di Sulawesi dilempar ke Singapura dan kembali lagi ke Jakarta sebagai beras import.

Mereka ini tidak mau melihat adanya saling hubungan antara pengiriman misi zending dari Amerika di Irian Barat dan penanaman modal Amerika dalam proyek tembaga disana, sebenarnya hal ini berhubungan dengan rencana plebisit tahun 1969. Mereka tidak mau tahu bahwa perang Vietnam ada hubungannya dengan keinginan Amerika untuk mempertahankan live-linenya dan khususnya keuntungan-keuntungan Amerika dengan menguasai Asia Tenggara. Mereka tidak mau tahu bahwa banjirnya kebudayaan-kebudayaan amoral sekarang ini ada hubungannya dengan usaha- perluasan perluasan pasaran bagi hasil-hasil industri seperti tape-recorder, film, obat-obatan, walkman, ganja, video cassete dsb, yang banyak memberikan keuntungan pada kapitalis-kapitalis asing. Ditambah lagi hancurnya unsur patriotisme dari orang-orang yang sudah terbius oleh kebudayaan yang amoral itu.

Pandangan realis dialektis selalu melihat dan mencari hubungan antara persoalan-persoalan yang ada, sehingga dapat mengetahui sebab-sebabnya sesuatu keadaan atau kejadian, sampai mengetahui sebab-sebab pokoknya. Akan tetapi realis dialektis masih dibagi menjadi dua lagi yaitu REALIS DIALEKTIS UTOPIS dan realis dialektis revolusioner. Sesudah mengetahui sebab-sebabnya suatu keadaan atau suatu persoalan, maka dialektis utopis tidak tahu bagaimana cara penyelesaiannya. Tidak tahu bagaimana merombaknya sehingga mengharap adanya perombakan secara angan-angan, tanpa usaha. Sebaliknya yang dialektis revolusioner sekaligus mengetahui dan melaksanakan adanya perombakan . Berusaha secara aktif dan rasional mengadakan perombakan-perombakan.

Dengan demikian seorang marhaenis pastilah cara berpikirnya adalah REALIS DIALEKTIS REVOLUSIONER dan memihak rakyat.

Skema perkembangan metode berpikir.

 

Realis Pragmatis

Pragmatis-------Pragmatis Idealis-------Realis

Realis Dialektis Utopis

Realis Dialektis Revolusioner

 

METODE BERPIKIR MARHAENIS

Metode ini sebenarnya memang sudah ada dan sudah merupakan kenyataan-kenyataan yang ada dan berkembang di alam maupun di masyarakat. Hanya saja perlu adanya formulasi-formulasi atau sistematika, sehingga dapat dimengerti secara mudah dan dapat dipelajari secara ilmiah. Seperti halnya hukum Newton yang menyebutkan adanya gravitasi atau daya tarik bumi. Sebenarnya sebelum Newton menemukan, gaya gravitasi itu sebenarnya telah ada dan sudah berlaku. Kemudian Newtonlah yang menemukan dalam formulasinya. Demikian pula dengan hukum Pascal, hukum boys ballot dan lain-lain hukum dalam ilmu alam dan ilmu pasti. Demikian pula metode berpikir marhaenis ini sebenarnya juga sudah ada, sudah berkembang dan sudah berlaku dalam masyarakat. Demikian juga Pancasila sebenarnya sudah menjadi falsafah hidup bangsa Indonesia, akan tetapi Bung Karnolah yang menggali, yang merumuskan atau memformulasikannya dalam bentuk Pancasila seperti yang kita kenal itu.

Sesuai dengan kodrat dan wataknya seorang marhaenis adalah pembela rakyat, maka adalah wajar kalau metode berpikir seorang marhaenis itu pastilah memihak kepada rakyat, seperti seorang kapitalis yang memihak kepada modalnya. Demikianlah juga adalah wajar kalau seorang yang biasa mendapatkan komisi pastilah memihak dan membela pada sistem yang memberikan komisi sebesar-besarnya.

Demikian juga yang dipikirkan seorang marhaenis adalah bagaimana agar rakyat selalu berada di fihak yang menang. Berdasarkan pada itikad memihak kepada rakyat ini kaum Marhaenis berpikir secara realistis, dialektis, dan revolosioner.

Realistis

Realistis disini yang dimaksud adalah " melihat, berpikir dan bersikap " kepada segala sesuatu apabila hal itu memenuhi sebagai : KENYATAAN YANG BENAR dan KEBENARAN YANG NYATA.

Untuk dapat mengerti secara lebih jelas, baiklah kita sebutkan saja beberapa contoh.

Belanda berjanji bahwa selambat-lambatnya tahun 1951 Irian barat diserahkan kepada kekuasaan kita". Apakah ini nyata? Memang ini nyata, ini sebagai suatu kenyataan, tetapi ini tidak benar. Nyata Belanda berjanji, tapi janji itu tidak benar. Benar Belanda berjanji tapi isi janji itu tidak nyata.

Demikian pula dapat diuraikan beberapa contoh lain. Kongres persatuan dan kesatuan PNI di Bandung memutuskan bahwa pertengahan tahun 1967 harus ada kongres PNI. Sidang IV MPRS memutuskan bahwa pertengahan tahun 1968 harus sudah dilaksanakan Pemilihan Umum. Sidang negara-negara kreditor di Tokyo menyatakan akan memberi kredit kepada Indonesia sejumlah 525 juta dolar, dll, dll. Semuanya tidak realistis.

Kita mengakui adanya Tuhan sebagai kebenaran yang nyata dan kenyataan yang benar. Akan tetapi kaum komunis tidak mengakui adanya Tuhan karena dianggapnya tidak nyata. Kenyataan bagi kaum komunis hanyalah segala sesuatu yang dapat ditangkap dengan pancaindra. Sedang kita kecuali itu dapat pula membuktikan adanya kenyataan dengan akal pikiran.

Kaum komunis mengatakan bahwa untuk menggerakkan rakyat haruslah rakyat itu dibuat semenderita mungkin (baca : Wanhoops theory dalam Dibawah Bendera Revolusi) memang ini nyata, tetapi buat kita itu tidak benar. Rakyat dapat kita sadarkan dengan akal pikiran. Rakyat adalah manusia, adalah umat Tuhan, rakyat bukanlah sekedar susunan tulang dan daging.

Dialektis

Yang dimaksud dengan dialektis adalah sebab akibat atau sebab musabab. Adanya suatu kejadian atau persoalan ada sebab musababnya, sebab itu sendiri pastilah ada sebabnya yang lebih lanjut. Demikianlah seterusnya sampai kita dapat menemukan sebab-sebab pokoknya. Sebagai contoh misalnya: rakyat Indonesia bodoh. Karena apa, apa sebabnya? Kurang pendidikan. Sebab apa kurang pendidikan? Karena tidak ada sekolah. Sebab apa kurang sekolah? Sebab pemerintah kolonial Belanda tidak mengadakannya. Sebab apa Belanda demikian? Dan seterusnya. Bagi orang yang tidak dialektis akan menitikberatkan usahanya untuk merengek-rengek pada Belanda untuk mendirikan sekolah. Nanti kalau rakyat kita sudah pintar barulah merdeka. Tapi bagi seorang Marhaenis akan berkata "Merdeka dulu baru mendirikan sekolah". Itulah sebabnya kenapa Bung Karno pada tahun 1927 sudah menuntut Indonesia merdeka saat ini juga.

Demikian juga ditahun 1968, kita harus mencari sebab-sebab pokoknya, mengapa dimasa-masa itu banyak penganggur, mengapa kita kekurangan makan dan pakaian, mengapa kita kekurangan perusahaan-perusahaan asing yang sudah dinasionalisasi dikembalikan pemerintah orang asing bahkan kita masih harus membayar ganti rugi, mengapa batas laut kita pada waktu itu harus kembali 3 mil tidak tetap 12 mil. Mengapa depatemen maritim dihapuskan ? dll.

Didalam kita mencari sebab musababnya itu maka kita akan menemukan adanya : saling hubungan antara ruang, waktu dan persoalan; dan adanya perkembangan atau perubahan-perubahan kualiatif menuju kuantitatif dan kualitatif (negasi terhadap negasi), yang disebabkan karena adanya perbedaan-perbedaan atau pertentangan-pertentangan.

Ada saling hubungan antara ruang, waktu dan persoalan.

Didalam kenyataan kenyataan alam maka terbukti bahwa tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri. Selalu ada hubungan antara benda satu dengan benda lain. Antara persoalan satu dengan persoalan lain. Antara tempat satu dengan tempat/ruang yang lain. Antara waktu dulu, sekarang dan watu yang akan datang, juga ada hubungannya.Tak dapat berdiri sendiri, kecuali pandangan sempit dari penganut-penganut pragmatisme.

Karena manusia itu selalu mempunyai persoalan dan terlibat dalam ruang dan waktu, maka demikian juga antara orang yang satu selalu juga ada hubungan dengan orang yang lain. Demikian juga antara kelompok-kelompok orang, antara negara-negara maupun antara negara-negara selalu ada saling hubungan. Apalagi pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial, makhluk Tuhan yang hidup secara bergerombol sosial.

Sebatang pohon dapat berdiri karena ada tanah, ada zat-zat yang dibutuhkan. Kita punya rumah karena ada tukang batu, tukang batu punya baju karena ada tukang tenun, tukang tenun dapat makan karena ada petani, petani mencangkul berkat hasil kerja tukang pembuat cangkul, dst. Hanyalah menjadi tugas kaum Marhaenis untuk membuat saling hubungan itu menjadi hubungan yang adil. Saling interaksi yang tidak menyebabkan mati ruginya salah satu pihak dan masing-masing orang.

Saling hubungan antara waktu dan waktu

Indonesia merdeka pada tahun 1945, tidak lepas dari perjuangan tahun-tahun sebelumnya. Baik perjuangan Sultan Agung dari Mataram, perjuangan tahun1908, angkatan 1928 maupun lain-lainnya. Sekarang ini kita memakai UUD1945 tidak dapat tidak mesti dihubungkan dengan tahun 1945 maupun dekrit Presiden 1959. Demikianlah dengan peistiwa lain-lainnya, misalnya. Sekarang banyak pejabat-pejabat militer menduduki jabatan-jabatan sipil. Sebelumnya ada tuntutan militer ikut dalam politik, sebelumnya lagi tahun 1956 ada SOB yang juga memberikan hak pada militer untuk duduk dalam masalah-masalah sipil. Sebelumnya lagi ada peristiwa 17 Oktober 1952 yang menghendaki dihapuskannya fungsi DPR. Rakyat Tiongkok sekarang sebagian besar jadi komunis, juga tidak dapat dipisahkan dari jaman-jaman sebelumnya dimana pejuang nasionalis Dr. Sun Yat Sen dimusuhi oleh Inggris dan Amerika Serikat yang dalam keserakahannya bekerjasama dengan kaum ningrat-feodal menindas rakyat Tiongkok. Sehingga terpaksa Dr. Sun Yat Sen berpaling pada Rusia.

Dari contoh-contoh ini saja kiranya jelas sudah bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi begitu saja tanpa didahului peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Demikian pula peristiwa GESTOK yang terkutuk itu. Tentu PKI telah mempersiapkannya. Dan anehnya baru 3 hari setelah peristiwa pengkhianatan tsb, PNI telah difitnah, koran-koran baru segera bermunculan, tindakan yang drastis dan bertahap segera dilancarkan.

Saling hubungan antara ruang dan waktu

Indonesia dijajah karena perkembangan-perkembangan di Eropa. Di Vietnam ada perang karena kepentingan-kepentingan kapitalis di Amerika Serikat. Di London ada demonstrasi anti pemerintah Johnson di Washington, Amerika. Matinya tenun di Klaten karena ada politik import di Jakarta. Banjir dikota-kota karena gundulnya gunung-gunung. Jakarta kekurangan beras karena daerah-daerah, produksi berasnya merosot. Tentara ditangsi-tangsi tidak puas dan marah-marah sehubungan dengan pelantikan bekas pemberotak menjadi menteri di Jakarta.

Saling hubungan antara persoalan dengan persoalan (materi dan materi)

Matinya perusahan-perusahaan nasional ada hubungannya dengan politik export-import. Karena pejabat diberi hadiah oleh seorang pedagang tentunya ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa yang lalu atau yang akan datang. Pepohonan mati kering tentu ada hubungannya dengan musim kemarau yang terlalu panjang. PKI berontak dalam afair Madiun, berontak lagi dalam GESTOK (disini hubungannya sekali PKI tetap PKI). Tahun 1956 ada pemberontakan PRRI/PERMESTA direhabilitir bahkan tokohnya ada yang jadi menteri. PRRI/PERMESTA nyata-nyata didalangi oleh Amerika dan Inggris. Sekarang politik kita cenderung ke Amerika, kredit dari sana, bulgur dari sana, masalah vietnam kita tidak tegas, soal Timur Tengah dimana Israel didalangi oleh Amerika dan Inggris maka kita diam, dll. Pak Harto dulu memimpin operasi Mandala merebut Irian Barat , sekarang soal Irian Barat seolah-olah kurang diperhatikan sehingga subversi dan infiltrasi disana merajalela. Dulu Pak Harto seorang prajurit yang tunduk pada perintah Presiden. Sekarang dia sudah menjadi penguasa tertinggi, yaitu Presiden penuh. Negara-negara kreditor berjanji akan memberikan kredit sebesar 525 juta dollar, kredit ditunda-tunda. Indonesia menandatangani batas laut 5 mil dan ijin perampokan oleh Jepang, bank-bank asing masuk Indonesia. Pada pokoknya seluruh perisiwa-peristiwa itu saling kait-mengkait.

Meskipun seluruh persoalan itu saling kait-mengait tapi kita sebagai seorang yang revolusioner yang memihak rakyat mesti memecahkan lingkaran setan tersebut. Karena itu kita harus dapat melihat sebab-sebab pokoknya dan melihat titik terlemah atau titik yang harus kita hantam, kita jebol dulu untuk kita kuasai.

Adanya perkembangan-perkembangan/perubahan-perubahan

Memang pada hakekatnya di alam ini tidak ada sesuatu yang bersifat abadi, tidak ada sesuatu yang bersifat kekal (kecuali Tuhan). Manusia bayi, jadi tua lalu mati. Demikian pulalah halnya dengan pohon, bahkan batu juga mengalami perubahan, karena pindah tempat, maupun pecah dan aus dimakan waktu. Perubahan itu dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, kuantitatif + kualitatif, maupun perubahan dari kuantitatif manjadi kualitatif atau sebaliknya dari kualitatif menjadi kuantitatif. Akan tetapi perubahan itu adalah perubahan yang meningkat, hukum ini menurut istilah yang mentereng disebut hukum NEGASI terhadap NEGASI. Dan perubahan-perubahan itu disebabkan karena adanya perbedaan-perbedaan atau pertentangan-pertentangan atau menurut istilah yang lain adalah disebabkan oleh hukum kontradiksi.

Perubahan-perubahan kualitatif-kuantitatif

Sebutir jagung berubah secara kualitatif menjadi biji atau lembaga, kemudian berkembang secara kualitatif menjadi jagung secara kualitatif sampai berbuah, yang berarti berkembang secara kualitatif dan kuantitatif menjadi sebatang jagung sampai berbuah, yang berarti berkembang secara kualitatif dan kuantitatif sekaligus dengan lahirnya biji-biji jagung yang tadinya hanya berasal dari sebutir saja, demikian seterusnya. Demikian pula kalau kita lihat mengenai es, es jadi air, air jadi uap, uap jadi air lagi dst. Demikianlah kalau kita lihat perkembangan-perkembangan dalam masyarakat. Kekuatan progresif di Indonesia pada tahun 1908 mulai berkembang. Kemudian karena tekanan-tekanan pemerintah kolonial Belanda menjadi susut lagi, akan tetapi mereka yang tinggal sedikit itu lebih militan dan lebih berpengalaman. Kemudan berkembang lagi pada tahun 1920, kemudian susut lagi karena hantaman jaman, dan berkembang lagi secara kualitatif maupun kuantitatif sampai dapat mengadakan proklamasi ’45. Sesudah kemerdekaan secara kualitatif maupun kuantitatif juga mendapatkan tantangan dengan perang kemerdekaan. Tetapi setelah tahun 1950 kaum progresif juga merosot dan banyak yang keblinger, kemudian meningkat lagi dengan adanya dekrit Presiden 1959. Demikian juga kalau kita amati perkembangan massa pengikut Marhaenisme sejak 1928 hingga sekarang.

Pada saat surutnya perkembangan kualitatif disertai perkembangan kuantitatif dan sebaliknya dan sebaliknya pada saat surutnya perkembangan kuantitatif maka pada saat itu berkembanglah kualitatif (meningkat mutunya). Untuk kemudian setelah suatu goncangan berkembanglah kuantitatif kembali tetapi sudah dalam mutunya yang lebih tinggi. Inilah yang dimaksudkan dengan negasi terhadap negasi, atau menurut istilah yang lain disebut "cokromanggilingan".

Satu contoh lagi yaitu sebuah roda. Pada suatu saat sebuah titik ada dibawah, kemudian titik itu akan berada dibawah lagi sesudah pernah mengalami ada diatas. Akan tetapi pada saat itu si roda sudah maju, tidak pada tempat yang semula.

Perbedaan-perbedaan/petentangan-pertentangan/kontradiksi-kontradiksi

Adanya perubahan-perubahan itu di sebabkan karena adanya perbedaan-perbedaan tekanan osmose dalam pohon dengan dalam tanah, sehingga zat-zat makanan bagi pohon dapat terhisap sampai ke pucuk-pucuknya. Air mengalir karena adanya perbedaan tinggi, atau karena perbedaan tekanan. Listrik mengalir karena adanya beda potensial. Memang setiap gerakan itu ada karena adanya perbedaan atau pertentangan-pertentangan.

Demikian juga terjadi di kalangan masyarakat dan di antero negara-negara maupun antara bangsa-bangsa ini, ada pergerakan-pergerakan atau pergolakan-pergolakan adalah karena adanya perbedaan atau pertentangan-pertentangan. Pertentangan-pertentangan di antara bangsa-bangsa, atau di antara golongan-golongan yang menimbulkan pergolakan-pergolakan sampai menimbulkan peperangan terutama karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan dari masing-masing pihak. Khususnya adalah kepentingan ekonomi, meskipun pada umumnya masing-masing pihak yang kalah akan selalu mengatakan dalih-dalih pertentangan yang kelihatannya enak didengar untuk mendengarkan kejahatannya.

Hitler berekspansi dengan dalih "Kejayaan bangsa Aria yang luhur", hal ini dikemukakan sekedar untuk menggerakkan rakyatnya (basis agitasi), kemuduian diikuti dengan pembunuhan masal pada kaum Yahudi, dimana Yahudi lah yang menguasai perekonomian Jerman, sehingga ras Aria dapat mengambil alih kekuasaan ekonomi. Demikian pula Hitler menyerang Eropah sampai Afrika sebenarnya adalah karena pada saat itu "libersraum" Jerman terpotong dan dikepung oleh negara-negara Eropah yang lain. Demikian juga Jepang dengan dalih Asia untuk Asia, dan Jepang sebagai saudara tua yang akan membebaskan saudara-saudaranya, yang sebenarnya hanya sekedar mau memindahkan penduduknya yang sudah terlalu padat. Belanda menjajah Indonesia dengan dalih "mission sacre", Nekolim dengan istilah "memberi bantuan" sebenarnya adalah dalam rangka mejerat negara-negara yang baru berkembang untuk tetap tergantung padanya dan seterusnya terutama untuk medapatkan legalitas guna melakukan perampokan dan penghisapan terhadap sumber-sumber alam maupun tenaga kerja dari rakyat, sedang pihak yang memberi ijin atau persetujuan memuji-muji modal asing dan membuatkan dalih-dalih perlunya memasukkan modal asing dan kredit-kredit karena mereka mendapatkan komisi dari situ.

Antek-antek Nekolim dengan dalih-dalih yang enak dan selalu mengatakan membela rakyat, membela Pancasila, demi pembangunan, demi keamanan, demi kerukunan Nasional dan lain-lain. Kata manis, tetapi pada hakekatnya sekali untuk Nekolim tetap menjadi antek Nekolim. Semua kata manis yang dikeluarkan pada hakekatnya adalah untuk mempertahankan kedudukan-kedudukan yang empuk dengan segala manisnya harta kekayaan hasil penipuan, perampokan dan penggadaian negara dan kemerdekaan. Sekali perampok dan penjual massa tetaplah bajingan.

Pada pokoknya setiap pergolakan terjadi karena adanya perbedaan kepentingan, terutama di bidang ekonomi.

Agresi Israel di Timur Tengah yang didalangi oleh Amerika Serikat terjadi karena kepentingan perusahaan-perusahaan minyak untuk menyalurkan minyaknya melalui pipa-pipa sampai teluk "akaba" dan kepentingan zionis-zionis Yahudi di satu pihak kemerdekaan bangsa-bangsa Arab. Perang Vietnam oleh Amerika Serikat yang katanya untuk melawan komunis adalah perbenturan kepentingan rakyat Vietnam untuk merdeka dengan kepentingan imperialisme mempertahankan garis hidupnya yang membujur dari selat Gibraltar, Timur Tengah sampai Asia Tenggara terus ke Korea dan Jepang.

Ada pergolakan buruh karena adanya perbedaan kepentingan majikan yang ingin mendapatkan untung yang sebesar-besarnya dan kepentingan buruh yang ingin tercukupi kebutuhannya. Ada peristiwa Gestok karena berbenturannya antara kepentingan kaum reaksioner kanan, kaum komunis dan kaum Pancasilais. KAMI demonstrasi karena mewakili kaum pemilik modal yang berwatak liberal melawan program-program sosialis ajaran Bung Karno. Pertentangan antara pendukung-pendukung demokrasi dan pelaku-pelaku anti demokrasi terjadi karena pelaku-pelaku anti demokrasi ingin tetap mempertahankan enaknya menjadi koruptor, enaknya menjadi pemegang ijin untuk mendapatkan uang semir, enaknya mendapatkan komisi-komisi, sedangkan pendukung demokrasi Pancasila ingin menjalankan keadilan dan kemerdekaan. Dan kaum demokrasi liberal ingin mendapatkan pembagian rejeki dari hasil perampokan dan hasil komisi sera tidak adil dan untuk mendapatkan kesempatan modalnya yang terhalang oleh sistem birokratis.

Kiranya cukup jelas bahwa setiap pergerakan atau pergolakan yang terjadi adalah karena adanya perbedaan kepentingan ekonomi. Demikian pula kita bergerak karena kita ingin memperbaiki nasib hidup kita agar bebas dari penekanan, penipuan dan perampokan antek-antek Nekolim/pelaku-pelaku konsep Nekolim.

Pertentangan Antagonis dan Pertentangan non Antagonis. (Kontradiksi pokok dan Kontradiksi tidak pokok)

Kontradiksi pokok yaitu suatu kontradiksi yang harus segera ditanggulangi dan pihak yang saling berkontradiksi saling menyelesaikan kontradiksinya dengan cara konfrontasi. Kontradiksi pokok diselesaikan dengan cara kekerasan, yang dimaksud dengan cara kekerasan adalah dengan menyusun kekuatan untuk dihadapkan pada lawan, meskipun kadang-kadang masih harus diikuti dengan diplomasi. Akan tetapi di sini, diplomasi yang dijalankan hanyalah formalitas daripada kekuatan yang ada. Sedangkan kontradiksi yang tidak pokok masih dapat diselesaikan dengan konsultasi dan diplomasi saja, tidak perlu dengan saling adu tenaga.

Di dalam perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam masyarakat maka kontradiksi-kontradiksi tersebut dapat berubah bentuknya, yaitu kontradiksi pokok menjadi kontradiksi tidak pokok dan sebaliknya kontradiksi tidak pokok menjadi kontradiksi pokok, perubahan ini dinamakan dengan istilah transmutasi.

Meskipun ada pertentangan-pertentangan diantara kaum komunis, kaum Islamis, dan kaum Nasionalis tetapi selama penjajahan langsung Belanda atau Jepang maka pertentangan itu masih terselesaikan dengan jalan konsultasi. Karena pertentangan-pertentangan antar golongan pada saat itu merupakan kontradiksi tidak pokok, sedangkan kontradiksi pokoknya adalah antara rakyat (semua golongan) melawan penjajah. Akan tetapi pada saat pengkhianatan PKI dengan G 30 S nya, antara kaum Nasionalis dengan kaum Agama di satu pihak dan kaum komunis di lain pihak terjadi kontradiksi pokok dimana dalam adu tenaga teryata PKI hancur. Jadi di sini terjadi transmutasi kontradiksi tidak pokok menjadi kontradiksi pokok. Sebelum Irian Barat kembali, terjadi kontradiksi pokok antara Belanda dengan Indonesia. Akan tetali setelah penyerahan Irian Barat maka antara Belanda dan Indonesia terjadi hubungan yang makin membaik, dapat dikatakan terjadi transmutasi kontradiksi pokok menjadi kontradiksi tidak pokok.

Demikian pula antara pendukung-pendukung Pancasila dan kaum Pancasilais munafik yang mula-mula masih dapat saling berdiplomasi, sekarang ini setelah kaum Pancasilais munafik nyata-nyata menjalankan Neo-Kolonialisme di Indonesia maka kontradiksi-kontradiksi ini berubah menjadi kontradiksi yang antagonistis. Hanya masalahnya pihak kaum Pancasilais munafik memang sangat lihai dalam menina-bobokkan rakyat dengan istilah yang sangat manis. Tetapi setelah rakyat merasakan benar akan penderitaan lahir batin yang disebabkan oleh oleh kaum Pancasilais munafik atau antek-antek Nekolim itu pastilah akan juga berlaku hukum-hukum perkembangan alam ini, yaitu penyelesaian dengan kekerasan.

 

Revolusioner

Revolusi artinya menjebol dan membangun. Revolusioner artinya berwatakkan dinamis untuk menjebol dan membangun. Hanya orang yang berwatak revolusioner yang memberikan konsep-konsep penyelesaian masalah-masalah dan sekaligus mampu menyingsingkan lengan baju tanpa menghitung untung-rugi untuk diri pribadi. Orang pandai maupun profesor-profesor botak sekalipun kalau hanya mampu melihat persoalan-persoalan secara obyektif dan dapat melihat sebab-sebabnya tapi tidak berwatakkan revolusioner dia tidak akan sanggup menyelesaikan persoalan tersebut dengan tuntas. Orang revolusioner mesti dan harus memihak kepada rakyat. Hanya orang yang dapat meresapi penderitaan dan aspirasi kaum Marhaen yang dapat berwatak revolusioner. Karena orang yang berpihak kepada rakyat yang mengerti apa kebutuhan rakyat dan mengerti kekuatan tenaga rakyat itu akan terbakar semangat revolusionernya. Getirnya penderitaan rakyat akan memacu mental revolusioner untuk berjuang menjebol sistem-sistem yang menyebabkan kesengsaraan rakyat dan sekaligus tega untuk menyingkirkan antek-antek Nekolim demi untuk kejayaan kaum Marhaen. Akan tetapi sekaligus dia menyingsingkan lengan baju untuk membangun kemerdekaan penuh, sosialisme Pancasila dan dunia baru. Berdaulat dibidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan (akan dijelaskan lebih lanjut dalam keterangan masalah ekonomi). Orang-orang yang tidak berwatakkan revolusioner meskipun dapat melihat secara obyektif segala persoalan rakyat, akan tetapi dia mesti terjerat dalam lingkungan setan yang tak ada putusnya. Sehingga dia tak tahu bagaimana penyelesaiannya, tidak tahu apa yang harus dikerjakan atau lebih parah lagi dia akan terjerat jaring-jaring Nekolim untuk menggantungkan hidup sepenuhnya pada bantuan Nekolim

Seorang revolusioner pesti memberikan masa depan yang gemilang bagi rakyat, tidak terjerat dalam strategi Nekolim, sehingga seorang yang revolusioner yang memihak pada rakyat pastilah progresif, mengetahui perkembangan jaman, mengerti kaharusan sejarah bagi rakyatnya.

Ada dua jenis revolusioner. Pertama progesif revolusioner yaitu memberikan masa depan gemilang rakyat, sedangkan retrogresif revolusioner justru menjerumuskan rakyat. Dengan demikian dapat kita rumuskan arti revolusioner bagi kita kaum marhaen yaitu :

  1. Berwatak dinamis, terus terang dan terus menerus bergerak dan selalu ingin bergerak
  2. Terus menerus bergerak menjebol dan membangun
  3. Memihak pada rakyat, selalu waspada terhadap segala gerak-gerik musuh rakyat.
  4. Melihat dan membawa rakyat ke masa depan yang gemilang
  5. Tidak menghitung untung rugi bagi diri pribadi, asal menguntungkan revolusi dan menguntungkan rakyat marhaen.

Pada pokoknya seorang revolusioner sanggup mencurahkan segenap kemampuannya asal menguntungkan rakyat dan revolusi seperti halnya seorang satria yang membela rakyat dan kebenaran. Jangan ragu-ragu sedikitpun asal menguntungkan rakyat dan revolusi. Satria Arjuna yang ragu-ragu melawan Adipati Karno dala perang Bharatayuda setelah disadarkan oleh Kresna dan akhirnya siap mental, berani dan mampu membunuh Adipati Karno. Bila saudara kita sendiri merugikan rakyat harus disingkirkan.

Melihat seorang Walikota yang menumpuk kekayaan dengan menjalankan penipuan, pemerasan pajak, menerima sogokan dan korupsi, banyak orang yang ngedumel saja sendirian, atau paling-paling menunggu tindakan dari orang lain. Tetapi seorang revolusioner menghimpun tenaga rakyat untuk dihantamkan ke hidung si Walikota itu. Melihat pimpinan sendiri menjual massanya dan menyelewengkan idiologinya, banyak orang yang rasanan sana-sini, lebih parah lagi akan bersikap pura-pura tidak tahu bahkan menjilat telapak kaki si pemimpin. Akan tetapi seorang revolusioner akan menghimpun massa untuk menghantam pemimpin tersebut. Melihat kenaikan harga-harga adalah disebabkan karena adanya manipulasi, adanya sistem sogok dalam perijinan atau kesalahan politik ekspor-impor, dan lain-lain. Banyak orang lain akan menyelesaikan secara sendiri sepotong-sepotong, itupun hanya sebatas pada bicara, tidak dalam tindakan. Seorang yang berfikir secara realistis dialektis refolusioner akan menyelesaikan masalah itu secara radikal, menjebol sampai akar-akarnya, di rombak seluruh struktur pemerintahan dan masyarakat, untuk kemudian ditanamkan sistem baru yang mencakup seluruh persoalan. Untuk membangun tidak terlalu menggantungkan pada kredit dan modal asing yang berarti menggadaikan negara dan masa depan bangsa. Akan tetapi seorang Marhaenis akan menitik beratkan usahanya pada penbangunan produksi dengan menggunakan tenaga rakyat. Sedangkan kredit hanyalah merupakan faktor penolong, itupun asal kredit tersebut tidak mengikat dengan persyaratan-persyaratan politik dan persyaratan ekonomi yang memberatkan rakyat (akan dijelaskan soal kredit, modal asing dan lain-lain dalam uraian ekonomi pembangunan).

Memang revolusi adalah menjebol dan membangun, tapi masih kita rasakan bahwa masih terlalu banyak anggota kita maupun kader-kader kita yang belum siap mental menjalankan itu. Pikiran dan mentalnya hanya terpancang pada pembangunan melulu. Padahal membangun terus tanpa menjebol pada hakekatnya adalah kompromis. Berarti kompromis dengan Nekolim dan antek-anteknya yang menjalankan praktek-praktek sistem Nekolim, dan ini berarti menjalankan penipuan pada diri sendiri dan massa rakyat. Kader-kader Marhaenis mesti harus sanggup menjebol sistem-sistem Nekolim sampai ke akar-akarnya yang ini berarti sekaligus harus sanggup menyingkirkan antek-antek Nekolim, orang-orang pengkhianat maupun oportunis-oportunis perjuangan. Jangan sekali-sekali mereka mendapatkan kesempatan lagi untuk tampil ke depan. Sekali orang semacam ini tampil kedepan maka dia akan bicara sebagai pahlawan yang paling berani, berjasa untuk mendapatkan posisi empuk buat dirinya. Disamping itu kader-kader Marhaenis mesti juga punya konsepsi maupun pelaksanaannya dan pelaksanaan yang cukup tangguh untuk menggantikan segala sesuatu yang dijebolnya. Karena menjebol tanpa membangun itu namanya anarkhi, amuk-amukan. Untuk menjalankan praktek-praktek revolusioner tersebut maka kita yang memihak pada rakyat marhaen ini tentu juga harus berjuang bersama-sama kaum Marhaen tersebut. Untuk itu kita mesti mengerti apa yang dinamakan :

MACTHVORMING – RADIKALISME – MASSA AKSI – SELF HELP – NON COOPERATION

Dengan pengertian ini maka kita dapat menjalankan praktek revolusioner. Tanpa mengerti itu maka hanya akan melamun tanpa dapat berbuat apa-apa karena tidak ada cara dan tidak ada kekuatan yang kita punyai (baca: "Mencapai Indonesia Merdeka" DBR hal 257-333)

Pengetrapan

Setelah kita dapat mengetahui dasar-dasar berpikir, maka tinggalah sekarang bagaimana mengetrapkannya. Suatu ilmu yang tidak dipraktekkan adalah ilmu yang steril, ilmu yang tidak berguna. Akan tetapi praktek tanpa ilmu, tanpa teori adalah sekedar amuk-amukan, awur-awuran, tanpa mengerti dasar arah dan tujuannya. Yang benar adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah. Mengamalkan ilmu dan mengilmiahkan amal.

Pada uraian di atas memang hanya kami usahakan mengemukakan contoh-contoh untuk lebih memudahkan mengetrapkan metode berpikir ini ke dalam praktek-praktek yang kita hadapi, walupun mungkin banyak sekali hal-hal yang belum dapat dicerna secara mudah. Oleh karena itu sebenarnya uraian ini seharusnya dipelajari dalam suatu rangkaian dengan uraian-uraian ekonomi dan geo politik, tapi karena kesukaran-kesukaran teknis yang kami hadapi terpaksa belum dapat kami sajikan, terutama karena kurangnya bahan. Untuk memudahkan mendalami tulisan ini kami harapkan dipelajari secara kolektif dengan diskusi-diskusi dan latihan, sekaligus hal ini membiasakan kita untuk berpikir secara kolektif gotong-royong musyawarah untuk mufakat, bukan musyawarah untuk menang-menangan, tapi musyawarah untuk mendapatkan kebenaran bersama. Apa yang kami uraikan sebagai metode berpikir tersebut sebenarnya adalah suatu sistematika, suatu urut-urutan cara seorang Marhaenis berpikir. Suatu metoda berpikir yang ilmiah bukan cara berpikir yang sekedar berdasarkan intuisi dan perasaan belaka. Memang kita sebagai manusia punya perasaan, itu harus kita pakai. Tapi jangan perasaan yang belum tentu benar itu berkuasa sepenuhnya atas diri kita, berkuasa atas pikiran kita. Sehingga seringkali kita terjebak dalam persoalan-persoalan remeh yang sebenarnya harus diabaikan dalam mencapai suatu tujuan besar. Seringkali kita terjebak dalam suatu persoalan suka atau tidak suka secara perorangan di dalam menjalankan tugas organisasi perjuangan, terjebak dalam rasa sentimen tidak suka dan sentimen asal suka saja. Padahal didalam menilai seseorang kita menilai atas dasar garis-garis perjuangan atas dasar tugas dan fungsi masing-masing dalam gerakan revolusioner. Seringkali kita jumpai dalam praktek bahwa massa kita masih mudah terjebak oleh kata-kata manis dari orang-orang yang berkedudukan. Padahal kata manis tersebut kata yang kelihatannya revolusioner itu masih harus kita nilai latar belakangnya, apa sebabnya dia berkata demikian. Dia berkata demikian sebenarnya hanya agar dia mendapat dukungan dari massa. Tetapi tindakannya justru menjerumuskan, justru menina bobokan massa agar lupa pada lawannya. Agar massa terlena dalam bius racun strateginya Nekolim dan memberikan dukungan pada manusia-manusia pancasila munafik memberikan dukungan pada pejabat-pejabat dan pemeras rakyat, penjual negara. Karena biusan-biusan antek-antek Nekolim, maka massa kita yang kurang rasionil mudah sekali termakan. Karena perasaannya banyak orang tidak sampai hati untuk melawan antek-antek Nekolim. Apalagi kalau konsep-konsep pelaksanaan konsep Nikolim itu berupa orang-orang dalam tubuh partai sendiri, berupa pejabat-pejabat organisasi sendiri meskipun mereka hanyalah pejabat-pejabat tiban, pejabat-pejabat drop-dropan, bukan pejabat yang dipilih oleh rakyat, oleh karena itu massa yang kurang rasional masih tidak tahu memberikan koreksi, apalagi memberikan perlawanan. Kalau toh tahu apa yang sebenarnya harus dikerjakan, tetapi karena perasaanya maka masih ragu-ragu untuk bertindak atau lebih parah lagi mereka mau saja dibawa oleh pimpinan gadungan itu. Mau saja dininabobokkan dengan kata-kata manis dan jeratan-jeratan halus. Dalam hal ini bukanlan tujuan kita untuk menghapuskan fungsi perasaan manusia dalam perjuangan kaum marhaenis, tidak, sama sekali tidak, tetapi kita harus menggunakan perasaan itu pada tempatnya kita harus semaksimal mungkin merasionalkan kita punya perasaan itu pada tempatnya kita harus semaksimal mungkin merasionalkan kita punya perasaan memberikan petunjuk-petunjuk yan tepat. Akan tetapi perasaan itu atau insting itu mesti kita beri alasan. Akan tetapi perasaan itu atau insting itu mesti kita beri alasan, mesti kita beri dasar-dasar yang rasional.Peasaan harus dirasionalkan. Bahkan suatu perasaan timbul itu sebnarnya dapat kita analisa untuk mencari sebab-sebabnya. Pada pokoknya, rasio harus dirasakan dan harus dirasionalkan.

Seperti telah diuraikan dimuka bahwa cara-cara berpikir seorang Marhaenis itu mesti Realistis, Dialektis, Revolusionr dan memihak kepada rakyat. Tinjauan-tinjaunnya harus beritikat untuk menguntungkan rakyat. Bukan berarti kita akan meninggalkan begitu saja hukum-hukum kebenaran dan keadilan dan harus pula diketahui bahwa soal benar dan adil itu sesungguhnya sangatlah relatif ukurannya. Tidak ada ukuran yang tepat dan tepat. Benar dan adil itu sangat tergantung pada pendapat dan perkembangan masyarakat itu selalu berkembang, sesuai dngan hukum-hukum perkembangan dialektis.

Disamping itu soal benar dan adil itu bagaimanapun juga pasti dipengaruhi oleh kepentingan pihak-pihak yang mengemukakan adil dan benar tersebut. Seorang pemilik modal akan mengatakan keuntungan 60% adalah adil , sedangkan rakyat konsumen akan mengatakan bahwa harga harus diturunkan dengan menurunkan keuntungan pemilik modal menjadi 30% atau 20%. Sedang pemerintah yang tidak berorientasi pada rakyat akan menaikkan pajak, dll. Kalau orang yang sama sekali tidak memihak, maka ia hanya akan terjebak alam perdebatan, hanya akan terjebak dalam adu argumentasi, terjebak dalam lingkaran setan yang tak ada ujung pangkalnya.

Demikian pula dapat kita terjebak dalam soal-soal formal terjebak dalam soal-soal landasan hukum, dalam hukum-hukum formal yang berlaku. Maupun terjebak dalam hukum-hukum organisasi yang hierarkis ataupun hukum-hukum kolot dan konvensional. Padahal kalau kita bicara soal revolusi yang berati menjebol dan membangun, maka justru tugas kita untk menjebol nilai-nilai lama, menjebol hukum-hukum konvensional, maupun norma-norma masyarakat yang tidak menguntungkan rakyat dan tidak menguntungkan jalannya revolusi. Justru tugas kaum Marhaenis untuk menjebol itu semua sampai ke akar-akarnya, untuk itu kita gantikan dengan hukum-hukum baru, dengan norma-norma dan nilai-nilai baru yang menguntungkan rakyat dan menguntungkan revolusi.

Pada pokoknya kita pejuang-pejuang marhaenis harus dapat membuang jauh-jauh penyakit-penyakit kolot, penyakit pikiran formal, dan penyakit konservatif untuk digantikan dengan metode yang realistis, dialektis, merevolusioner dan memihak kepada rayat dan jalannya revolusi.

Setelah kita dapat berfikir secara tepat, dapat menganalisa dengan tepat pula, jangan dilupakan bahwa kita harus berpraktek. Jadilah pemikir dan pejuang, pejuang dan pemikir jadilah patriot komplet bukan kader-kader salon.

 

Pembagian kekuatan dalam abad ini

Sebenarnya soal pembagian kekuatan ini harus dapat dicari dan disimpulkan sendiri dengan melihat kenyataan-kenyataan ini dan menganalisanya berdasarkan metode berfikir yang telah diuraikan. Akan tetapi kami rasa perlu kami kemukakan disini untuk lebih melancarkan kita dalam menganalisa persoalan-persoalan yang dihadapi. Lebih melancarkan didalam nanti mengajukan problem-problem atau contoh-contoh untuk mempraktekan sistematika metode berfikir marhaenis. Sesuai dengan kenyataan yang kita hadapi dalam abad ini, maka kita melihat adanya tiga kekuatan pokok yang dewasa ini berkembang. Masing-masing berkembang menurut arahnya sendiri-sendiri. Karena perkembangan dan gerakan-gerakan dari kekuatan inilah maka terjadi pergolakkan dalam berbagai bentuk dan berbagai macam tingkatan kwalitas maupun kwantitas. Semua persoalan ini akan lebih mudah kita pahami kalau kita sadar bahwa semua itu dikarenakan adanya triga kekuatan yang saling berbenturan yaitu kekuatan- kekuatan :

  1. Kekuatan kapitalis imperialis, yang dipelopori oleh:
  1. Kekuatan komunis, kekuatan ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok satu dibawah Rusia dan kedua dibawah RRC. Masing-masing juga mengalami pertentangan-pertentangan sendiri karena pebdaan-perbedaan watak susunan masyarakat dan sistim pembangunan industri sehingga membawa watak kepentingan kepentingan yang berlainan. Yang lebih lsnjut membawa perbedaan-perbedaan strategi perjuangannya.
  2. Kekuatan Pancasila. Pendukung-pendukung aspirasi pancasila ini berarti dari negara-negara yang baru berkembang, negara-negara yang baru menyusun kemerdekaanya,setelah oleh negara barat pada umumnya merreka dijajah. Negara-negara ini sebagian besar terletak dibenua-benua Asia-Afrika dan Amerika latin. Pendukung-pendukung Pancasila ini kekuatqannya belum besar, akan tetapi sebagain besar mencapai 2/3 dari penduduk dunia dan mempunyai masa depan yang gemilang karena kekayaan alamnya. Dan kekuatan ini dapat kita nytakan sebagai kekuatan yang mewakili phenomena atau gejala masa kini. Kita lihat juga perkembangan yang begitu pesat, relatif dalam perkembangan sjarah dunia. Masing-maing kekuatan tersebut mempunyai perwatakan dan mempunyai falsfah hidup sendiri-sendiri, falsafah hidup yang pada pokoknya didasarkan pada kepentingan ekonominya. Kaum kapitalis menghendaki hak milik pribadi yang mutlak, Fight liberalism. Karena falsafah ini mereka dapat memeras orng lain tau bangsa lain berdasarkan kekuatan modalnya dan kemajuan teknologinya Kaum komunis yang mewakili kaum proletar menghendaki dihilangkannya sama sekali hak ,milik pribadi dan dihilangkannya sistem negara untuk diadakan pemerintaha dunia. Akan tetapi Rusia menghendaki Moskow sentris, sedang RRC dengan Peking sentris, Rusia yang telah maju teknologinya dan menghasilkan produksi barang-barang industri berat menggunakan strategi kooperation secara damai. Sedang RRC yang kurang tinggi teknologinya menghasilkan produksi ringan dan padat penduduknya menghendaki perjuangan dengan perang rakyat secara frontal. Sedang kaum pancasilais menghendaki agar hak milik pribadi masih diakui dalam batas-batas yang tidak mencakup kepentingan hak rakyat banyak, dan hak milik pribadi harus digunakan sebagai fungsinya yang menguntungkan rakyat banyak, tidak boleh suatu hak milik digunakan demikia rupa hingga merugikan orang banyak. Dalam soal internasional dikehendaki adanya dunia baru yang hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati masing-masing nasionalismenya. Masalah ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam uraian soal geopolitik dan ekonomi.

 

KEKUATAN DI INDONESIA

Indonesia yang merupakan dari dunia, apalagi letaknya sangat strategis, terletak dalam persimpangan jalan dan ditaambah lagi dengan kekayaan alam kita, maka tidaklah heran kalau semua pihak sangat berkepentingan akan tanah air kita. Bumi nusantara dan lautnya. Oleh karena itu semua kekuatan yang ada di dunia ini juga tercermin dalam kekuatan-kekuatan yang ada di sini. Kekuatan membawa aspirasi dunia baru yang sekaligus merupakan kekuatan pembawa aspirasi rakyat indonesiaadalah kekuatan pancasilais sejati. Kekuatan pancasilais yang berkerangkakan pejuang-pejuang raakyat, ya pembela-pembela pancasila, ya pejuang-pejuang marhaenis ini. Kekutan komunis internasional disini diwakili oleh PKIyang beberapa tahun yang lalu telah mengalami kehancurannya, PKI hancur karena melakukan tindakan khianat yang terkutuk, sehingga membangkitkan amarah rakyat pada umumnya (certitanya). PKI yang terlibat terjebak dalam link radikalisme harus mengalami kehancurannya. Penyakit kekiri-kirian, penyakit kekanak-kanakan, membawa PKI trerjebak dalam link radikalisme. Kekuatan imperialisme di indonesia diwakili oleh kaum reaksioner kanan, kaum vested interest yang secaara sadar atau tidak sadar menjalankan kepentingan-kepentingan kaum imperialisme di indonesia, cara-cara tidak langsung inilah yang dinamakan sistim nekolim. Nekolim cukup menjalankan subversif, infiltrasi, memberikan sogokan yang membius dengan sekedar materi, meracuni dengan kebudayaan-kebudayaan dan literatur-literatur yang yang kelihatannya ilmiah, untuk kemudian memberikan konsep-konsep maupun ikatan-ikatan ekonomi dengan sendirinya semua ini demi keuntungan kaum imperialisme. Cara-cara baru inilah yang belum banyak dikenal oleh rakyat. Cara-cara baru ini benar-benar mendapatkan hasil yang baik buat nekol dan dengan biaya yang relatip sangat kecil. Cara ini membingungkan, karena rakyat tidak melihat secara langsung, rakyat tidak melihat secara fisik datangnya penjajah. Yang dilihat langsung hanyalah akibat-akibatnya dan antek-anteknya yang berupa bangsanya dewek. Menjadi tugas pejuang-pejuang marhaenisme untuk membelejeti praktek-praktek nekolim ini. Rakyat harus didasarkan siapa lawannya. Rakyat harus digerakkan melawan musuh-musuhnya, melawan tangan-tangan kotor yang berlumuran darah dan air mata rakyat.

Dalam tahap pertama nekolim cukup menggunakan orang-orang moderat, orang-orang yang kelihatannya agak progresip. Akan tetapi terdiri dari orang-orang tolol, orang-orang yang tidak berpandangan jauh. Ditempatkanlah pejabat-pejabat tidak pada fungsinya yang tepat baik dalam jabatan-jabatan pemerintahan, jabatan-jabatan pimpinan perusahaan negara, jabatan-jabatan kedinasan negara maupun jabatan-jabatan pimpinan massa/partai. Semuanya semaksimal mungkin terdiri dari orang-orang yang tidak tepat dan terutama orang-orang vested interest, sehingga dengan mudahnya mereka-mereka itu dibawa untuk menjalankan konsep-konsep nekolim apalagi setelah tangan-tangan nekolim secara langsung maupun secara bertingkat mengadakan penggarapan pada manusia-manusia kerdil ini. Tidak segan-segan nekolim sedikit menghambur-hamburkan harta kekayaan pada antek-antenya. Setelah antek-antek ini terbiasa ghidup mewah, dengan sendirinya cara berfikir mereka sama sekali memihak kepada siapa saja yang memberikan keuntungan kepada pribadinya. Tanpa melihat penderitaan dan ratap tangis kaum marhaen. Dengan cara demikian nekolim mendapat legalisasi, mendapat ijin, mendapat persetujuan yang konstitusional untuk merampok kekayaan alam kita dan menindas rakyat kita.

Sedangkan kepada rakyaat diadakan penggarapan untuk meninabobokan, rakyat disuruh nrimo saja rakyat dilaranng berpolitik untuk membutakan rakyat terhadap kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh tangan-tangan nekolim yanng kotor berlumuran darah itu. Suara rakyat dicatut dan disulap demikian rupa sehingga menjadi keputusan-keputusan yang konstitusional. Sedangkan suara rakyat yang sebenarnya dibungkam serapat-rapatnya.

Untuk menjaga kestabilan kekuasaan sistem nekolm itu maka digunakanlah kekuasaan yang keras. Digunakan kekuatan bersenjata untuk mencegah suara rakyat itu jangan sampai keluar dari kerongkongan yang kering. Pejuang-pejuang marhaenis disumbat mulutnya dengan ancaman bayonet dan gerbangnya penjara.Penangkapan-penangkapan tanpa alasan hukum. Penyiksaan dalam penjara terjadi dimana-mana. Memang benar hukum adalah hukumnya yang berkuasa. Kekuatan-kekuatan pembela rakyat sama sekali tak diberi hak berorganisasi sehingga sangatlah sukar untuk menghimpun kekuatan rakyat bagi pejuang-pejuang pembela nasib rakyat dan tanah air.

Dari praktek-praktek ini maka muncullah suatu kelompok baru dalam masyarakat, yaitu kelompok yang menurut istilah KAMI dinamakan golongan KABIR atau kapitalis birokrat,yaitu golongan yang mengagungkan birokrasi yang menggunakan kekuasaannya untuk menumpuk kekayaan.Penggunaan kekuasaannya untuk jadi pengusaha.

Singkatnya KABIR adalah penguasa-penguasa pengusaha atau penguasa dengan kuasa.Kabir-kabir inilah yang berpesta pora menmikmati hasil penipuan,pemerasan dan perampokan hak milik rakyat dan hak milik negara yang dijadikan hak milik pribadi.Di samping masih menganggap komosi-komisi dan upah kerja sebagai antek-antek nekolen.Kabir-kabir ini pula yang menjadi anjing-anjing penjaga perusahaan-perusahaan asing dan membukakan pintu masuknya modal asing.Akan tetapi operasi modal-modal asing itu disini mengakibatkan pula kehancuran pemilik-pemilik modal . Pemilik-pemilik modao nasional ini yang tidak atau kurang mendapatkan pembagian rejeki dari hasil rampokan terhadap hak milik negara dan hak milik rakyat .Bahkan sementara ini modal-modal mereka terpaksa gulung tikar menghadapi operasi modal asing.Oleh karena itu mereka yang membawakan aspirasi ideologi liberal ini memberikan perlawanan kepada kabir.Terjadilah pertentangan antara liberal ideologis dan liberal vested,atau menurut istilah yang banyak dikatakan terjadi pertentangan antara orba nasional dan orba irasional.Orba nasional ini dalam bentuknya mewakili oleh KAMI-KAPPI-KAPI dan Front Pancasila. Dan yamng terakhir ini menggunakan selubng kuatan agama Islam.Jangan mengharapkan terlalu banyak pertentangan dua kekuatan ini.Pertentangan mereka adalah pertentangan antagonistis kontradiksi ini bukanlah kontradiksi pokok,kontradiksi ini adalah kontradiksi tidak pokok,kontradiksi ini adalah kontradiksi inherent.Kontradiksi yang memang selalu ada dan selalu dibawah sebagai kontradiksinya didalam kekuatan-kekuatan liberal itu sendiri.Bahwasanya keadaan kelemahan lawan ini pasti digunakan ,memang demikianlah cara perjuangan setiap macam kekuatan politik.Setiap kelemahan lawan pasti digunakan,akan tetapi jangan mengharapkan hasil dari itu, tanpa menyusun dan menggunalkan kekuatan sendiri.Harus diingat bahwa kedua-duanya adalah sama-sama antek nekolem. Setoiap pertentangan mereka ini memuncak pastilah dalangnya,tuannya akan campur tangan melerai pertikaian diantara sesama antek.Demikian pula masa marhaen dan marhaenis jangan merasa berbesar hati kalau saat ini diberi sedikit kebebasan, kalau saat ini dirangkul oleh kabir-kabir itu.Kabir-kabir itu sedikit mengulurkan tangan dengan muka manis bukan tidak ada maksudnya .Kabir-kabir itu begitu mesra pada kita adalah untuk membuat kita menjadi alatnya.Kita akan dijadikan kuda tunggangan mereka. Kita akan dijadikan jago aduan melawan orba rasional itu.Kita akan dijadikan bumper menghadapi kaum liberal itu.Padahal lawan utama kita saat ini kabir itu.Jangan samapai terbius lupa akan lawan utama rakyat ini. Pelaku-pelaku anti demokrasi yang sekarang pura-pura m,emberikan kebaikan hatinya.Sekali antek nekolem tetap antek dan pasti licik.Mereka tetap pamri untuk itu semua.Awas hati-hatilah jangan sampai terbius rayuan palsu ini.Menghadapi kenyataan-kenyataan ini pastilah ada orang-orang oportunis,orang-orang pling-plang,orang-orang yang hanya memikirkan keuntungan pribadi sendiri dengan menjual; kawan dan menjual ideologi maupun menjual massanya.Orang-orang macam inilah penghianat perjuangan.Berbahaya karena mereka sangat lihai menjilat sana merangkul sini.

SISTEMATIKA

Sesai dengan meode seoran marhaenis berpikir maka sistematika pemikiran atau jalannya pemikiran ini sebenarnya juga sedarhana saja . Sederhana buat seorang marhaenis,sederhana karana ini semua sekedar melihat kenyataan-kenyataan secara obyektif dan menghubung-hubungkan kenyataan-kenyataan itu.Kenyataan atau realita atau fakta-fakta itu kita kumpulkan. Kemudian kita analisa, kita dapatkan kesimpulan-kesimpulannya lalu kita cari penyelesaiannya. Dari situlah kita menyusun program kerja. Dari situlah kita tentukan derap langkah barisan pejuan-pejuang marhaenis. Karena dari situlah kita dapat mengetahui siapa lawan siapa kawan. Kita ukur kekuatan-kekuatan kawan dan lawan.

Fakta-fakta :

Fakta-fakta yang kita lihat dan kita kumpulkan itu dapat kita kelompokkan menurut bidangnya masing-masing. Misalnya bidang politik,ekonomi kebudayaan,sosial,hankam. Nantinya akan kita lihat saling hubungannya diantara bidang bidang itu. Apalagi setelah kita susun urut-uruttan waktu, waktu dulu,kini dan yang akan datang. Kemudian urut-urutan tempat,tempat lokal,nasional dan internasinal akan tetapi kita lihat kemudian saling hubungan antara masing-masing bidang persoalan,saling hubungan antara waktu ( sejarah ) dan saling hubungan antara tempat.

Analisa :

Setelah kita lihat fakta-fakta yang menjadi persoalan kita,menjadi tugas kita utntuk memahami atau menghadapi masalah ini. Tidak ada cara lain kecuali kita harus mendalaminya untuk mendapatkan kesimpulan-kesimpulan. Kita harus mencari sebab musababnya sampai terjadi suatu persoalan. Kita cari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh fakta-fakta atau persoalan itu. Dan kita akan lebih berhasil bila kita dapat mempekirakan terlebih dahulu akibat-akibat yang ditimbulkan oleh fakta-fakta tersebut. Dengan analisa ini kita akan mengetahui tujuan tujuan apa yang ingin dicapai pihak-pihak yang terlibat Dalam fakta-fakta atau persoalan-persoalan itu. Dengan pengertian-pengertia ini kita dapat menyimpulkan siapa kawan siapa lawan. Untuk lebih gamlangnya kita buat sistematika sebagai berikut ini:

  1. Saling hubungan
  2. Kita saling hubungan antara fakta-fakta tersebut, Apakah fakta-fakta tersebut punya satu akibat yang sama dan punya sumber yang sama.

  3. Pihak-pihak yang terlibat
  4. Dengan melihat fakta-fakta kita dapat melihat siap-siapa saja yang ikut berperanan dan berperanan sebagai apa. Siapa yang menjadi peran utama, atau sumber pokok dari persoalan.

  5. Kepentingan masing-masing
  6. Pihak-pihak yang terlibat itu masing-masing punya kepentingan terutama kepentingan ekonomi. Dengan melihat kepentingannya atau latar belakangnya kita sudah dapat melihat siapa lawan dan siapa kawan

  7. Faktor-faktor yang mempengaruhi cara berpikir sesorang.

Siapa kawan dan siapa lawan tersebut akan lebih kita yakinkan dengan mengingat kedalam caranya dia berpikir.Caranya dia berpikir tersebut akan kita ketahui dengan melihat lima faktor yang mempengaruhi caranya seseorang berpikir, disini kita melihat siapa kawan siapa lawan artian strategi, strategi terbatas maupun dalam operasional.

  1. Kesimpulan.

Sekarang kita sudah sampai pada kesimpulan dari seluruh analisa. Kesimpulan-kesimpulan itu akan memberikan:

    1. Fakta-fakta atau masalah-masalah mana yang sebenarnya merupakan akibat, mana yang merupakan sebab dan mana yang merupakan sebab pokok
    2. Posisi, fungsi dan kepntingan dari masing-masing pihak yang terlibat
    3. Siapa kawan siapa lawan

 

Gerakan Revolusioner.

Melihat hasil-hasil kesimpulan dalam analisa tersebut, menjadi tugas dari kader-kader Marhaenis untuk menyelesaikannya, menjadi tugas-tugas kader Marhaenis untuk menjebol dan membangun, mengkonsolidasi seluruh potensi kawan dalam tahap perjuangan ini dan menghancurkan lawan-lawan rakyat. Memang tidak ada sesuatu pihak yang mau melepaskan hak-haknya dengan sukarela atas kemauannya sendiri. Kepada mereka-mereka yang merugikan rakyat pasti harus dipaksakan untuk melepaskan keserakahannya. Dan untuk itu tidak ada cara lain kecuali menyusun kekuatan, menggunakan kekuatan itu untuk membentuk kekuasan. Memang hakekatnya politik adalah kekuasan. Siapa yang berkuasa dia;ah yang menang. Oleh karena itu menjadi tugas kader-kader Marhaenis untuk memenagnkan rakyat. Konsep-konsep itu hanya dapat terlaksana dengan baik bila dilaksanakan oleh kader-kader pelaksana yang cukup tangguh.

Untuk membentuk kekuatan itu pada saat ini dan sekaligus untuk menghalangi kemajuan aksi-aksi lawan, maka perlu kita lancarkan tiga ofensif :

  1. Ofensif ideologi Marhaenisme.
  2. Ofensif kader Marhaenis.
  3. Ofensif persatuan progresif revolusioner.

Dan kepada rakyat pada umumnya kita mesti membentuk pendapatnya, memmbangkitkan semangatnya untuk kemudian mengajak rakyat itu berbuat dalam gerakan revolusioner ini. Massa yang sudah terbentuk pendapatnya, akan dapat mengambil sikap tegas dan kemudian bergerak revolusioner . Dalam pengolahan massa inilah perlu kita pelajari :

  1. Penyusunan kekuatan dasar dan tujuan
  2. Massa aksi dengan gimnastik revolusionernya.
  3. Berdikari yaitu percaya pada kekuatan sendiri.
  4. Konfrontasi terhadap lawan buat menyadarkan massa dan tidak membingungkan rakyat.
  5. Radikalisme, yaitu menjebol sampai keakar-akarnya dan membangun dasarnya.

Dibekali dengan semangat yang tinggi kita yakin bahwa tujuan kita pasti tercapai. Tujuan kita sejalan dengan arusnya sejarah. Kita cinta perdamaian tetapi kita lebih cinta kemerdekaan !!!

Tuhan selalu beserta kita !!!!!!

 

MERDEKA !!!!